Sunday, December 4, 2011

iklan0
Persepsi Ibu Hamil Pada Pelayanan Antenatal Care (ANC) Di Puskesmas

iklan1
BAB  I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Era globalisasi yang mendunia saat ini membuat setiap negara harus bekerja lebih efektif dan efesien untuk meningkatkan nilai saing yang semakin kompetitif. Peningkatan kualitas dan produktifitas kerja menjadi tuntutan dunia bisnis dan industri yang tidak bisa ditunda lagi bila ingin bersaing secara regional maupun global. Tuntutan kultural kerja ini juga menimpa pada organisasi jasa kesehatan. Bekerja dalam bidang kesehatan mempunyai dua fungsi pokok yaitu memproduksi barang  dan atau jasa kesehatan bagi pasien dan mengikat setiap persoalan pada pola interrelasi dengan personel lain untuk kerjasama produktif. (Ilyas, 2002)
        Pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) adalah salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang amat penting di Indonesia. Adapun yang dimaksud dengan puskesmas ialah suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah tertentu.
Menurut Inguarzo dalam Kadir (2003) mengemukakan bahwa sarana kesehatan ( puskesmas ) belakangan ini mulai menyadari pentingnya memberikan pelayanan berfokus pada harapan dan kepuasan pelanggan.Dikatakan pula bahwa tingkat kepuasan pasien pada puskesmas atau rumah sakit yang sudah dikenal kemungkinan bisa tinggi, walaupun tidak semua persepsinya atau harapannya terpenuhi. Disarankan untuk kondisi seperti ini puskesmas tidak lagi bertujuan hanya untuk mencapai kepuasan yang tinggi tetapi mempertinggi persepsi pasien bahwa puskesmas tersebut adalah centers of excellens. Untuk itu dibutuhkan kemauan puskesmas menemukan harapan pasien, meningkatkan harapan pasien  dengan cara memberikan lebih baik dari yang diharapkan sebelumnya disamping meningkatkan persepsi pasien tentang puskesmas dengan memberikan informasi yang optimal. Namun dikatakan pula meskipun ada hubungan antara persepsi dengan harapan namun ada gap antara persepsi dengan kepuasan terhadap pelayanan di puskesmas ( Kadir, 2003 ).
Menurut Robbins dan Judge (2008) mengemukakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh karakteristik peribadi (sikap, keperibadian, motif, minat, kebutuhan, pengalaman masa lalu dan harapan seseorang), target (kemiripan, latar belakang, ukuran) dan situasi (waktu, keadaan kerja, keadaan sosial).  Sedangkan harapan seseorang menurut Zeithalm dalam kadir (2003) berhubungan dengan komunikasi dari mulut kemulut, kebutuhan individu, pengalaman masa lalu dan komunikasi eksternal.
Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui program kesehatan ibu dan anak maka pihak Puskesmas Paguyaman melakukan berbagai upaya antara lain menempatkan tenaga bidan di desa yang berada di wilayah kerja Puskesmas Paguyaman. Sebelum penempatan tenaga bidan di desa tenaga tersebut telah dilatih dan disiapkan fasilitas seperti peralatan bidan dan sarana polindes yang akan berfungsi sebagai sarana pelayanan bagi ibu hamil. Dengan penempatan tenaga tersebut diharapkan dapat mempermudah bagi ibu hamil untuk memanfaatkan fasilitas tersebut. Untuk memperlancar pelayanan bagi ibu hamil di polindes maupun di poliklinik KIA Puskesmas Paguyaman mereka diberikan biaya operasional untuk pelaksanaan kegiatan program yang dananya ditentukan berdasarkan jumlah dan jenis kegiatan yang telah direncanakan oleh pihak Dinas Kesehatan Boalemo, selain itu diberikan jasa pelayanan melalui dana gakin dalam bentuk paket yang terdiri atas pemeriksaan antenatal care (ANC), post neonatus care (PNC) dan pertolongan persalinan,  sebesar Rp.250,000 per satu paket. Upaya yang dilakukan oleh pihak puskesmas tersebut diharapkan petugas dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi pasien khususnya ibu hamil sehingga tercipta suatu persepsi yang baik pada pelayanan antenatal care dan pada akhirnya target program yang telah ditetapkan dapat tercapai. Hasil kegiatan program pelayanan antenatal care di Puskesmas Paguyaman seperti terlihat pada grafik 1.
Hasil survey awal yang dilakukan terhadap pasien (ibu hamil) yang berkunjung ke puskesmas induk maupun di polindes, mereka mengeluh terhadap pelayanan yang ada di sarana pelayanan tersebut. Keluhan tersebut antara lain petugas kadang tidak berada di polindes sehingga harus ke Puskesmas Paguyaman yang otomatis mengeluarkan biaya perjalanan dan membutuhkan waktu untuk menuju kesarana tersebut
Grafik 1. Cakupan Program Antenatal Care (ANC) di Puskesmas Paguyaman
Kabupaten Boalemo Setiap Tahun.
 Faktor lain adalah tenaga bidan kurang respon terhadap keluhan pasien terutama pada saat pasien tidak bisa lagi kesarana pelayanan karena kondisi yang tidak memungkinkan sehingga  harus memanggil bidan ke rumah, fasilitas peralatan yang masih terbatas serta sarana polindes yang masih sederhana dan belum layak digunakan karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki. Disamping keluhan dari pasien tersebut, para tenaga bidan mengeluh dengan tugas yang diemban sehari-hari dimana mereka mempunyai tugas rangkap untuk memberikan pelayanan pada pasien umum di puskesmas induk dan melayani ibu hamil di pondok bersalin desa (polindes) sehingga ada kejenuhan dalam tugas rangkapnya dan secara tidak langsung akan berpengaruh pada tugas pokoknya sebagai tenaga bidan yang memberikan pelayanan antenatal care (ANC) pada ibu hamil. Dengan adanya keluhan dari pasien khususnya ibu hamil akan memberikan kesan bahwa pelayanan di sarana polindes maupun di puskesmas paguyaman tersebut kurang baik atau tidak memuaskan sehingga mempengaruhi jumlah kunjungan ibu hamil pada hari berikutnya karena mereka menganggap bahwa apa yang diharapkan menyangkut pelayanan ibu hamil tidak sesuai dengan yang ada di Puskesmas Paguyaman
        Berdasarkan data dan permasalahan di atas maka, peneliti ingin meneliti tentang ” Studi tentang persepsi ibu hamil pada pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010”.

B. Rumusan Masalah
    Berdasarkan kenyataan diatas maka dikemukakan permasalahan yakni “ bagaimana Persepsi Ibu Hamil Pada Pelayanan Antenatal Care (ANC) Di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010“. 

C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah diatas, dapat dikemukakan tujuan penelitian sebagai berikut  :
1. Tujuan Umum
        Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi ibu hamil pada pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010.
2. Tujuan Khusus 
a. Untuk mengetahui kebutuhan individu pada pelayanan  pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010.
.b. Untuk mengetahui pengalaman ibu hamil pada  pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010.
c. Untuk mengetahui harapan ibu hamil pada  pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010.

D. Manfaat Penelitian
    1.  Manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
    Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan  terutama berkaitan dengan persepsi ibu hamail pada pelayanan antenatal care (ANC) , bagi peneliti berikutnya dimasa yang akan datang.
     2. Manfaat bagi praktisi
                        Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu bahan masukan bagi   Dinas Kesehatan Kabupaten Boalemo dalam penentuan arah kebijakan pelayanan antenatal care (ANC) di Puskesmas Paguyaman
3. Manfaat Bagi Peneliti 
                Merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam rangka     memperluas wawasan keilmuan dan mencoba melakukan kajian tentang persepsi ibu hamil pada pelayanan antenatal care  di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo tahun 2010


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.160

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Persepsi Ibu Hamil Pada Pelayanan Antenatal Care (ANC) Di Puskesmas
iklan2

iklan0
Perbedaan Tingkat Efektifitas Perawatan Luka Dengan Tehnik Dan Terbuka Terhadap Penyembuhan Luka Tali Pusat Bayi Baru Lahir

iklan1
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang

    Persalinan adalah proses dimana seorang ibu melahirkan bayinya. Pada saat bayi baru lahir terjadi proses adaptasi dengan dunia luar yang jauh berbeda dengan keadaan dalam rahim sehingga terjadi perubahan (Jumiarni, 1994). Akibat perubahan lingkungan dari uterus ke luar uterus, maka bayi baru lahir menerima rangsangan yang bersifat kimiawi, mekanis dan termis. Hasil dari rangsangan ini membuat bayi akan mengalami perubahan metabolisme, pernafasan, sirkulasi dan lain-lain (Wiknjosastro H, 2002). Disamping itu bayi dituntut melakukan metabolisme dan melaksanakan segala sistem tubuhnya sendiri seperti bernafas, mencerna, eliminasi dan lain – lain yang semula tergantung pada ibunya.
    Periode lain adalah terjadinya infeksi terutama pada tali pusat yang merupakan luka basah dan dapat menjadi pintu masuknya kuman tetanus yang sangat sering menjadi penyebab kematian bayi baru lahir (Jumiarni, 1994). Sebelum terjadi penutupan anatomik yang sempurna pembuluh darah tali pusat merupakan tempat masuknya kuman yang paling baik, sehingga bayi mudah menderita infeksi                (Markum A.H, 1995). Untuk itu perlu dilakukan perawatan tali pusat. Perawatan tali pusat dapat menggunakan tehnik tertutup atau dengan menggunakan tehnik terbuka. Sampai saat ini di rumah sakit banyak yang menggunakan tehnik perawatan tertutup yaitu membersihkan tali pusat dengan alkohol 70 %, luka dikompres kasa alkohol 70 % kemudian ditutup dengan kassa steril (Cristine, 1993). Dan mulai tahun 2002, sejak adanya pelatihan APN  mulai dikembangkan tehnik perawatan terbuka dengan membersihkan tali pusat sampai kering kemudian pertahankan sisa tali pusat dalam keadaan terbuka agar terkena udara dan tutup dengan sehelai kassa steril (PPKC, 2002). Kejadian dilapangan dengan tehnik tersebut proses penyembuhan dan lepasnya tali pusat berbeda-beda, pelepasan biasanya terjadi dalam 2 minggu pertama dengan rentang 2 sampai 45 hari (Cuningham, 1995). Namum sampai saat ini belum ketahui tehnik yang paling efektif terhadap penyembuhan luka tali pusat.
    Perawatan tali pusat yang kurang baik dan salah dapat mempengaruhi lamanya proses pengeringan dan lamanya waktu lepas serta dapat menyebabkan infeksi  sehingga hal ini tidak efektif terhadap penyembuhan tali pusat (Cuningham, 1995). Tanda lain yang perlu diwaspadai pada tali pusat akibat perawatan yang kurang baik adalah adanya tanda kemerahan, bengkak, keluar cairan, bau busuk dan berdarah (PPKC,2002). Di ruang Perinatologi RSD Dr H Koesnadi Bondowoso bayi baru lahir baik melalui persalinan fisiologis ataupun yang pathologis untuk perawatan luka tali pusatnya ada yang menggunakan  tehnik tertutup mengacu pada protap  yang ada yaitu dengan kompres basah kasssa alkohol 70%, sedangkan sebagian lagi ada yang  menggunakan tehnik terbuka tanpa memberikan sesuatu apapun pada tampuk tali pusat dan  kemudian dibiarkan terbuka tanpa tutup (mengacu pada Buku acuan Asuhan Persalinan Normal, 2002).  
    Walaupun belum ditemukan kejadian infeksi tali pusat selama dirawat di rumah sakit, sampai saat ini dilaporkan rata – rata penyembuhan luka tali pusat terjadi beberapa hari setelah perawatan dirumah dengan rentang waktu yang bervariatif. Rata – rata tenaga keperawatan yang bertugas di Perinatologi belum mengetahui tingkat efektifitas dari kedua perawatan yang dilakukan pada tali pusat bayi baru lahir . Dan sampai saat ini belum ada penelitian tentang perawatan ini. Menurut, Cunningham (1995) menyatakan tali pusat mengering lebih cepat dan lepas lebih awal kalau terbuka, dan karena itu pembalutan tak dianjurkan. Pusat Pengembangan  Keperawatan Carolus (2002) menuliskan dalam makalah  Pelatihan Managemen Asuhan Kebidanan, bahwa perawatan tali pusat dengan tehnik terbuka lebih baik karena tali pusat yang tidak tertutup akan mengering dan puput lebih cepat dengan komplikasi yang sedikit. Manfaat lain dari perawatan terbuka tentu akan lebih sedikit bahan dan alat habis pakai yang akan digunakan perawat  yang bertugas, sehingga  akan menekan biaya yang dikeluarkan rumah sakit. Sedang perawatan tali pusat tehnik tertutup didasarkan pada kajian literatur yang menyatakan bahwa dengan tehnik tertutup akan mencegah terjadinya kontaminasi dengan dunia luar dan melindungi luka tali pusat dari gesekan, walaupun secara ekonomi akan lebih banyak bahan dan alat yang diperlukan.
    Adanya berbagai tehnik perawatan tali pusat dan beragamnya alat dan bahan habis pakai yang digunakan khususnya di ruang perawatan perinatologi RSD Dr H Koesnadi Bondowoso, dan belum diketahuinya tingkat efektifitas perawatan tali pusat yang dilakukan terhadap proses penyembuhan, peneliti mencoba melakukan penelitian tentang efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup dan terbuka terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi baru lahir di ruang Perinatologi RSD Dr H Koesnadi Bondowoso. Diharapkan dengan penelitian ini dapat ditemukan tehnik perawatan tali pusat yang efektif terhadap proses penyembuhan luka tali pusat dan juga efesien dari biaya yang dikeluarkan rumah sakit, sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit khususnya di Ruang Perinatologi.

1.2.    Rumusan Masalah
Bagaimanakah perbedaan tingkat efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup (dengan kassa alkohol 70 %) dan terbuka (dengan tanpa memberikan apapun pada tampuk tali pusat) terhadap penyembuhan luka tali pusat bayi baru lahir.

1.3.    Tujuan Penelitian
1.3.1.    Tujuan umum
    Mengidentifikasi tingkat efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup dan terbuka terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi baru lahir.
1.3.2.    Tujuan khusus
1.    Mengidentifikasi efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi baru lahir.
2.    Mengidentifikasi efektifitas perawatan luka dengan tehnik terbuka terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi baru lahir.
3.    Mengidentifikasi perbedaan tingkat efektifitas perawatan luka dengan tehnik tertutup dan terbuka terhadap penyembuhan luka tali pusat pada bayi baru lahir.

1.4.    Manfaat Penelitian
1.4.1.    Teoritis
Dengan diketahuinya tehnik perawatan tertutup dan terbuka serta tingkat efektifitasnya dalam penyembuhan luka tali pusat memberikan masukan pada penelitian keperawatan  dalam upaya peningkatan mutu pelayanan keperawatan.
1.4.2.    Praktis
Tehnik perawatan yang efektif dapat digunakan sebagai tehnik alternative dalam perawatan tali pusat bayi baru lahir sebagai tindakan yang cukup efektif dan effesien.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.159

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Perbedaan Tingkat Efektifitas Perawatan Luka Dengan Tehnik Dan Terbuka Terhadap Penyembuhan Luka Tali Pusat Bayi Baru Lahir
iklan2

iklan0
Perbedaan Pengaruh Tindakan Suction ETT yang Dilakukan Selama 5 Detik dan 10 Detik Terhadap Perubahan Saturasi Oksigen Di Ruang ICU RSUD

iklan1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tujuan akhir pernafasan adalah mempertahankan konsentrasi oksigen, karbondioksida dan ion hidrogen dalam cairan tubuh. Sumbatan jalan nafas karena benda asing sangat berbahaya dan harus segera dibersihkan. Karena apabila tidak dapat bernafas, maka kita tidak dapat memberikan pernafasan buatan. Indikasi pemasangan ETT (Endotracheal Tube) termasuk sumbatan mekanis pada jalan nafas dan gangguan non obstruksi yang mengubah ventilasi. Tindakan pemasangan ETT sering dilakukan di unit perawatan intensif untuk penderita yang refleks laringnya terganggu atau mengalami gagal nafas akut. ETT  harus sering dibersihkan dari sekret dengan cara dihisap karena jika tidak dibersihkan, sekret akan tertahan di jalan nafas sehingga sirkulasi oksigen ke jaringan tidak maksimal, hal ini mengakibatkan saturasi oksigen kurang dari normal sehingga dapat terjadi hipoksemia, yang penting diingat adalah setiap kita melakukan penghisapan sekret bukan sekretnya saja yang dihisap tapi oksigen di paru juga dihisap dan alveoli juga bisa kolaps (Nazaruddin, 2004)
Trauma akibat intubasi bisa disebabkan karena trauma langsung saat pemasangan ataupun karena balon yang menekan mukosa terlalu lama sehingga menjadi nekrosis. Trauma yang disebabkan oleh cuff ini terjadi pada kira-kira setengah dari pasien yang mengalami trauma saat pemasangan trakeostomi. Trauma intubasi paling sering menyebabkan sikatrik kronik dengan stenosis, juga dapat menimbulkan fistula trakeoesofageal, erosi trakea oleh pipa trakeostomi, fistula trakea-arteri inominata, dan ruptur bronkial. Jumlah pasien yang mengalami trauma laringeal akibat intubasi sebenarnya masih belum jelas, namun sebuah studi prospektif oleh Kambic dan Radsel melaporkan kira-kira 0.1 %. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di ruang perawatan ICU (Intensive Care Unit) Sentral RSUD Jombang pada bulan Januari sampai Desember 2008 terdapat 50 pasien yang memakai ETT. Peneliti menemukan penderita yang memakai ETT   pada bulan November – Desember 2008 sebanyak 8 pasien. Dari data tersebut didapatkan fakta setelah selesai dilakukan penghisapan sekret ETT terdapat 5 orang yang mengalami penurunan saturasi oksigen, padahal seharusnya jika sekret ETT telah dihisap maka airway menjadi lebih lancar, sehingga sirkulasi, ventilasi, perfusi dan transport gas pernafasan ke jaringan lebih baik.
Sumbatan jalan nafas dapat total dan partial. Sumbatan jalan nafas total bila tidak dikoreksi dalam waktu 5 sampai 10 detik dapat mengakibatkan hipoksia, henti nafas dan henti jantung. Berdasar ini kita harus segera mulai memberikan penanganan awal karena lebih banyak korban meninggal disebabkan kekurangan oksigen daripada kelebihan oksigen. Oleh karena hipoksemia dapat mematikan dalam waktu 3-5 menit. Sedangkan oksigen toxicity baru menyebabkan kerusakan jaringan paru jika pemberian okisigen 100% yang terus menerus selama 12 jam atau lebih. Sebelum suction, pasien harus diberi oksigen yang adekuat (pre oksigenasi) sebab oksigen akan menurun selama proses pengisapan pada pasien- pasien yang oksigennya sudah kurang. Pre oksigen ini dapat menghindari hipoksemia yang berat dengan segala akibatnya, sebab proses suction dapat menimbulkan hipoksemia. Keadekuatan sirkulasi, ventilasi, perfusi dan transport gas pernafasan ke jaringan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya perilaku. Faktor yang paling berpengaruh adalah perilaku perawat saat melaksanakan prosedur penghisapan sekret ETT, jika prosedur tidak sesuai dapat mengakibatkan sekret tidak bisa keluar sehingga dapat mengakibatkan hipoksia karena oksigenasi ke jaringan tidak adekuat akibat defisiensi penghantaran oksigen atau penggunaan oksigen di seluler dengan tanda dan gejala gelisah, penurunan tingkat kesadaran, peningkatan tekanan darah, frekuensi nadi dan sianosis, jika tidak ditangani akan mengakibatkan kematian padahal gejala awal terjadinya hipoksia dapat dilihat dari penurunan saturasi oksigen (FK Unair, 2002).
Upaya yang dapat dilakukan oleh perawat adalah melakukan tindakan suction ETT sesuai standar prosedur serta melakukan fisioterapi nafas pada pasien, dan tidak kalah pentingnya pemantauan terhadap peralatan yang digunakan apakah konsentrasi oksigen yang digunakan sesuai, serta deteksi dini adanya kebocoran pipa ETT. Berdasarkan fenomena tersebut penulis tertarik meneliti pengaruh tindakan suction 5 detik dengan 10 detik  terhadap perubahan saturasi oksigen. Karena pengetahuan tersebut dapat dijadikan masukan untuk para perawat ketika melakukan tindakan suction  pada pasien.

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: Adakah perbedaan pengaruh tindakan suction ETT yang dilakukan selama 5 detik dan 10 detik terhadap perubahan saturasi oksigen di Ruang ICU  RSUD Jombang.

1.3    Tujuan Penelitian
1.3.1    Tujuan Umum
Mengetahui perbedaan pengaruh tindakan suction ETT yang dilakukan selama 5 detik dan 10 detik terhadap perubahan saturasi oksigen di Ruang ICU  RSUD Jombang.
1.3.2    Tujuan Khusus
a.    Mengidentifikasi pengaruh tindakan suction ETT yang dilakukan selama 5 detik terhadap perubahan saturasi oksigen.
b.    Mengidentifikasi pengaruh tindakan suction ETT yang dilakukan selama 10 detik terhadap perubahan saturasi oksigen.
c.    Menganalisis perbedaan pengaruh antara tindakan suction yang dilakukan selama 5 detik dan 10 detik terhadap perubahan saturasi oksigen.

1.4    Manfaat Penelitian
1.4.1 Teoritis
Mengembangkan ilmu keperawatan dalam perawatan pasien kritis dalam upaya promotif dan preventif dengan diketahuinya pengaruh tindakan suction selama 5 detik dengan tindakan selama 10 detik terhadap perubahan saturasi oksigen yang digunakan sebagai dasar dalam penelitian ilmu keperawatan.
1.4.2 Praktis
Pengetahuan akan pengaruh dari tindakan suction selama 5 detik dengan tindakan selama 10 detik terhadap perubahan saturasi oksigen dapat digunakan sebagai panduan intervensi yang bermutu dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.158

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Perbedaan Pengaruh Tindakan Suction ETT yang Dilakukan Selama 5 Detik dan 10 Detik Terhadap Perubahan Saturasi Oksigen Di Ruang ICU RSUD
iklan2

iklan0
Perbedaan Fungsi Paru Pasien PPOK Yang Menggunakan Terapi Nebulizer Dengan Terapi Intravena di Ruang RSUD

iklan1

BAB     1
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Terapi nebulizer merupakan bagian dari fisioterapi paru-paru (chest physiotherapy). Tepatnya, cara pengobatan dengan memberi obat dalam bentuk uap secara langsung pada alat pernapasan menuju paru-paru. Sejak ditemukannya nebulizer pada tahun 1859 di Perancis, nebulizer merupakan pilihan terbaik pada kasus-kasus yang berhubungan dengan masalah inflamasi atau obstruksi bronkus pada penderita asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis). Sebagai bronkodilator terapi inhalasi memberikan onset yang lebih cepat dibandingkan obat oral maupun intravena (Winariani, 2002).

Menurut Dr Suradi, penyakit PPOK di Indonesia menempati urutan ke-5 sebagai penyakit yang menyebabkan kematian. Sementara data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, pada tahun 2010 diperkirakan penyakit ini akan menempati urutan ke-4 sebagai penyebab kematian. Pada dekade mandatang akan meningkat ke peringkat ketiga dan menyerang sekitar 10% penduduk usia 40 tahun ke atas. Kondisi ini tanpa disadari, angka kematian akibat PPOK ini makin meningkat. Pengobatan terhadap penyakit ini tidak akan bisa menyembuhkan 100 persen. Sedangkan pengobatan berupa suportif paliatif hanya untuk memperbaiki hidup. Penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bronkodilator dalam bentuk inhalasi lebih efektif disbanding bronkodilator dalam bentuk parenteral terutama pada PPOK ekserbasi akut dalam serangan. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada pasien di ruang Paviliun Cempaka RSUD Jombang selama bulan September-November 2008 tercatat dari 53 pasien yang menderita PPOK yang mendapat terapi melalui inhalasi rata-rata 2 sampai 3 kali kondisinya membaik Indikasi terapi nebulizer untuk memberikan medikasi secara langsung pada saluran napas untuk mengobati: bronchospasme akut, produksi mukus yang berlebihan, batuk dan sesak napas, epiglotitis, sedangkan di ruangan Paviliun Cempaka indikasi dilakukan terapi “nebulizer” adalah bila saat dilakukan pemeriksaan fisik terdengar suara wheezing pada kedua lapang paru.

Terapi ini lebih efektif, kerjanya lebih cepat pada organ targetnya, serta membutuhkan dosis obat yang lebih kecil, sehingga efek sampingnya ke organ lainpun lebih sedikit. Sebanyak 20-30% obat akan masuk di saluran napas dan paru-paru, sedangkan 2-5% mungkin akan mengendap di mulut dan tenggorokan. Pemberian obat dalam bentuk inhalasi ini ditujukan untuk memberikan efek efek lokal yang maksimal di paru dan memberikan efek samping yang seminimal mungkin. Adapun saluran nafas yang dimaksud adalah mulai dari saluran nafas atas, trachea, bronkus, bronkiolus hingga alveoli. Reseptor yang menerima efek bronkodilator dari adenoreseptor terdapat di bawah laring dan tersebar merata sepanjang saluran nafas konduksi. Tujuan pemberian terapi nebulizer adalah dapat diberikan langsung pada tempat/sasaran aksinya (seperti paru) oleh karena itu dosis yang diberikan rendah, dosis yg rendah dapat menurunkan absorpsi sistemik dan efek samping sistemik, pengiriman obat melalui nebulizer ke paru sangat cepat, sehingga aksinya lebih cepat dari pada rute lainnya seperti subkutan atau oral, udara yang dihirup melalui nebulizer telah lembab, yang dapat membantu mengeluarkan sekresi bronchus (Winariani, 2002).
Untuk penatalaksanaan penderita PPOK perlu dilakukan penilaian awal yang teliti mengenai tingkat perjalanan penyakit, lamanya gejala, adanya gangguan faal obstruksi jalan nafas dan derajat obstruksi. Penatalaksanaan selalu mencakup suatu pengobatan yang terarah  dan rasional, bukan semata-mata pengobatan medika mentosa. Prinsip pengobatan terdiri dari usaha pencegahan, mobilisasi dahak yang lancar, memberantas infeksi yang ada, mengatasi obstruksi jalan nafas, mengatasi hipoksemia pada keadaan dengan gangguan faal yang berat, fisioterapi dan rehabilitasi dengan tujuan memperbaiki kualitas hidup dan memperpanjang lama hidup. Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk melihat bagaimana fungsi paru pasien PPOK yang menggunakan terapi nebulizer dengan terapi parenteral di Ruang Paviliun Cempaka  RSUD Jombang.

1.2. Rumusan masalah.
1.2.1 Pertanyaan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang maka dapat dirumuskan pertanyaan masalah sebagai berikut :
1.    Bagaimana fungsi paru pasien PPOK sebelum dilakukan terapi nebulizer dan terapi parenteral di Ruang Paviliun Cempaka RSUD Jombang ?
2.    Bagaimana perbedaan fungsi paru pasien PPOK yang dilakukan terapi nebulizer dengan terapi parenteral di Ruang Paviliun Cempaka RSUD Jombang?
3.    Adakah pengaruh terapi nebulizer terhadap fungsi paru pada pasien PPOK di ruang Paviliun Cempaka  RSUD Jombang?

1. 3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui perbedaan fungsi paru pasien PPOK yang menggunakan terapi nebulizer dengan terapi intravena di Ruang Paviliun Cempaka RSUD Jombang.
1.3.2 Tujuan khusus
1.    Mengidentifikasi terapi nebulizer dan intravena pada pasien PPOK di Ruang Paviliun Cempaka RSUD Jombang.
2.    Mengidentifikasi fungsi paru pasien PPOK di Ruang Paviliun Cempaka RSUD Jombang
3.    Menganalisa perbedaan fungsi paru pasien PPOK yang menggunakan terapi nebulizer dengan intravena  di Ruang Paviliun Cempaka RSUD Jombang

1.4  Manfaat Penelitian
1.   Bagi penulis
Mengetahui pengaruh terapi inhalasi terhadap fungsi paru, sehingga dapat dijadikan sebagai literatur untuk terapi PPOK
2.   Bagi penulis lain
Sebagai bahan masukan untuk penelitihan lebih lanjut
3.   Bagi rumah sakit
Sebagai bahan pertimbangan dalam pemberian terapi inhalasi dengan nebulizer pada pasien PPOK.



Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.157

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Perbedaan Fungsi Paru Pasien PPOK Yang Menggunakan Terapi Nebulizer Dengan Terapi Intravena di Ruang RSUD
iklan2

iklan0
Perbedaan Antara Berat Badan Bayi Umur 0-6 Bulan yang Diberi ASI Tanpa Susu Formula dg Diberi Susu Formula Tanpa ASI

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

I.1     Latar Belakang

        Menyusui merupakan hal yang umum terjadi pada semua budaya dan selalu di lakukan karena kelangsungan hidup bayi tergantung pada ASI. Oleh karena itu menyusui juga merupakan suatu alamiah yang universal, yang menjamin kelangsungan hidup dan kesehatan anak. Namun karena kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap manfaat pemberian ASI, diet yang terbatas dan lingkungan yang kurang sehat menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian anak.
        Di negara berkembang, menyusui merupakan senjata terampuh untuk melindungi bayi dari incaran maut. Semua penderita yang, meninggal karena kekurangan gizi diperkirakan 1 juta kasus yang terjadi setiap tahunnya, Menurut laporan dari Demografic and health survey WHO di indonesia tahun 1998 bayi yang mendapat ASI sebanyak 65%,tahun 1999 menurun menjadi 50%.
        Pengetahuan merupakan hasil dari tahun dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuk tindakan seseorang (overt behavior) (Notoatmodjo, 2003- 121)
        ASI Esklusif adalah Bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan,tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula ,jeruk, madu, air teh, dan air putih, serta tambahan makanan padat seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan nasi tim. Setelah 6 bulan baru mulai diberikan makanan pendamping ASI (MPASI). ASI dapat diberikan sampai anak berusia 2 tahun atau lebih. (Eny Retna Ambarawati& Diah Wulandari 2008, Asuhan Kebidanan. NIFAS).
        Hasil rekomendasi WHO dan UNICEF pada pertemuan tahun 1979 di geneva tentang makanan bayi dan anak antara lain berisi : menyusui merupakan bagian terpadu proses reproduksi yang memberikan makanan bayi secara ideal dan alamiah serta merupakan dasar biologik dan psikologis yang di butuhkan untuk pertumbuhan.Memberikan susu formula dengan dalih apapun pada bayi lahir harus di hindarkan (Prawirohardjo, 2002).
        Pertumbuhan bayi menyusui secara murni adalah dengan tercukupnya zat gizi yang terkandung dalam ASI sehingga dapat menjamin pertumbuhan normal.Keunggulan ASI lebih unggul di bandingkan susu buatan karena ASI  mengandung hampir semua zat gizi yang diperlukan bayi susu buatan menyebabkan alergi karena mengandung bahan yang bisa menyebabkan diare kronik.Faktor yang bisa mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI esklusif antara lain usia, pendidikan, lingkungan, intelegasi dan pekerjaan.
Pada saat ini program dinas kesehatan kota Surabaya menargetkan tercapainya pemberian ASI esklusif tahun 2010 sebesar 70 % dan untuk tahun 2011 sebesar 90%. Kenyatannya target yang mampu di capai pada tahun 2009 hanya sebesar kurang lebih 40%. Berdasarkan data yang diperoleh, di BPS Hj. Sri Wahyuni, Amd, Keb,121 jumlah kelahiran bayi yang diberi ASI,yang mendapat ASI esklusif hanya 20 bayi ( 16,5% ).

I.2  Identifikasi Masalah
            Penelitian ini dilakukan di BPS Hj.Sri Wahyuni, Amd, Keb. Terletak di Jl. Melirang Bungah Gresik. BPS ini melayani KB, ANC, INC,PNC dan imunisasi. Mayoritas pasien yang berkunjung di BPS ini adalah pendatang.(Bekerja sebagai pabrik 90 % dan menjadi pegawai negeri 10%)
            Sosial masyarakatnya hampir 100% beragama islam. Ditinjau dari segi perekonomian, masyarakat yang bekerja sebagai pabrik dapat dikatakan golongan ekonomi menengah kebawah, sehingga dapat berpengaruh terhadap tinggkat pendidikan juga pengetahuan. Berdasarkan survey awal bulan agustus observasi di BPS Hj. Sri Wahyuni, Amd, Keb pada 10 orang (100%) BAYI didapatkan kejadian banyak bayi yang berumur 0-6 bulan sebagian besar tidak minum ASI melainkan diberi susu formula sebanyak 5 orang (30%). Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

I.3      Pembatasan dan Rumusan masalah

        “Apakah ada perbedaan antara berat badan bayi umur 0-6 bulan yang diberi ASI tanpa susu formula dengan diberi susu formula tanpa ASI” di BPS Hj.Sri Wahyuni Amd.Keb, Gresik.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.156

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Perbedaan Antara Berat Badan Bayi Umur 0-6 Bulan yang Diberi ASI Tanpa Susu Formula dg Diberi Susu Formula Tanpa ASI
iklan2

iklan0
Pengaruh Pemberian Konseling Ibu Hamil Tentang Proses Persalinan Terhadap Kecemasan Ibu Menghadapi Persalinan

iklan1

    Konseling adalah proses pemberian informasi obyektif dan lengkap yang dilakukan secara sistematik dengan paduan keterampilan komunikasi interpersonal, teknik, bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang dihadapi dan menentukan jalan keluar atau upaya untuk mengatasi masalah tersebut. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Maternal Dan Neonatal, 2002:39)
    Serangkaian kegiatan paling pokok bimbingan dalam usaha memberi konseling/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan/masalah khusus (Andi Mapiere,1994)
2.1.2    Tujuan Konseling
2.1.2.1. Membantu penderita untuk memahami peristiwa kehamilan, persalinan, nifas dan resiko yang mungkin dihadapi sehingga dapat dilakukan upaya preventif terhadap hal-hal yang tidak diinginkan
2.1.2.2.  Membantu penderita dan keluarganya menentukan asuhan kehamilan, pertolongan persalinan yang bersih dan aman atau tindakan klinik yang mungkin diperlukan.
2.1.2.3. Membantu klien untuk mengenali gejala/tanda-tanda tentang akan terjadinya suatu resiko reproduksi dan fasilitas pelayanan kesehatan yang sesuai/mampu untuk menanggulangi berbagai resiko/komplikasi yang terjadi.
2.1.3    Ciri Konselor Yang Efektif
    Kemampuan untuk melaksanakan komunikasi positif secara efektif merupakan syarat bagi seorang konselor. Ciri konselor yang efektif adalah :
2.1.3.1. Mampu menciptakan suasana nyaman dan aman bagi klien.
2.1.3.2.  Menimbulkan rasa saling percaya diantara klien dan konselor.
2.1.3.3.  Mampu mengenali hambatan sosio kultural setempat.
2.1.3.4. Mampu menyampaikan informasi obyektif, lengkap dan jelas (bahasa yang mudah dimengerti).
2.1.3.5. Mau mendengar aktif dan bertanya secara efektif dan sopan.
2.1.3.6. Memahami dan mampu menjelaskan berbagai aspek kesehatan reproduksi.
2.1.3.7. Mampu mengenali keinginan klien dan keterbatasan penolong.
2.1.3.8. Membuat klien bertanya, berbicara dan mengeluarkan pendapat. 
2.1.3.9. Menghormati hak klien, membantu dan memperhatikan.
2.1.4 Pengertian Komunikasi.
    Adalah suatu proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau mengubah sikap, pendapat, atau perilaku secara keseluruhan baik secara langsung dengan lisan maupun tidak langsung melalui media ( Harwani, 2002 : 6).
    Dari aspek pengungkapan dan pertukaran informasi, komunikasi digolongkan menjadi 2 bentuk, yaitu :
2.1.4.1. Komunikasi Verbal
a. Pertukaran informasi terjadi secara interaktif mendengarkan lawan bicara atau      sebaliknya.
b. Kontak mata sangat membantu kelancaran komunikasi.
c. Pengamatan bahasa dan gaya bicara.
d. Berlangsung dua arah atau timbal balik.
e. Pemahaman dan penyerapan informasi berlangsung relatif cepat dan baik.
2.1.4.2. Komunikasi Non-Verbal
a. Melalui observasi dari gerak-gerik, ekspresi  gerak tubuh dan isyarat.
b. Sulit untuk menyelami maksud dan perasaan klien
c. Sering terjadi salah persepsi.
d. Konselor lebih banyak mengambil inisiatif.
e. Komunikasi terganggu apabila kedua belah pihak tidak mengupayakan komunikasi verbal.
Walaupun petugas pelayanan kesehatan (konselor) belum mengikuti pelatihan keterampilan konseling, bukan berarti proses ini tidak dapat dilakukan karena masalah penting di dalam konseling, selain teknik komunikasi dan pemberian informasi, juga isi dari informasi yang akan disampiakan. Seharusnya semua petugas dan staf klinik dapat mengerti tentang pengetahuan dan tindakan klinik dalam kesehatan maternal dan berbagai resiko/komplikasi yang mungkin timbul. 
    Pada dasarnya, konseling merupakan bentuk kepedulian petugas kesehatan masalah dan upaya untuk menyelesaikan masalah tersebut.
2.1.5    Langkah-Langkah Dalam Memberikan Konseling
    Gallen dan Leitenmaier (1987) memberikan akronim yang dapat dijadikan panduan bagi konselor untuk melakukan konseling. Akronim tersebut adalah GATHER yang merupakan singkatan dari :
G – Greet
         Memberi salam, mengenalkan diri dan membuka komunikasi.
A- Ask/Asses
Menanyakan keluhan/kebutuhan pasien dan menilai apakah keluhan/keinginan yang disampaikan memang sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
T- Tell
Beritahu bahwa persoalan pokok yang dihadapi oleh pasien adalah seperti yang tercermin dari hasil tukar informasi dan harus dicarikan upaya penyelesaian masalah tersebut. 
H- Help
Bantu klien untuk memahami masalah itu yang harus diselesaikan. Jelaskan beberapa cara yang dapat menyelesaikan masalah tersebut termasuk dampak dari masalah tersebut.
E- Explain
Jelaskan bahwa alternatif yang diberikan dan hasil yang diharapkan mungkin dapat segera terlihat atau diobservasi beberapa saat hingga menampakkan hasil seperti yang diharapkan. Jelaskan pula siapa dan dimana pertolongan lanjutan atau darurat dapat diperoleh.
R- Refer dan     Return Visit
Rujuk apabila di fasilitas ini tidak dapat memberikan pelayanan yang sesuai atau buat jadwal kunjungan ulang apabila pelayanan terpilih telah diberikan.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.155

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Pengaruh Pemberian Konseling Ibu Hamil Tentang Proses Persalinan Terhadap Kecemasan Ibu Menghadapi Persalinan
iklan2

iklan0
Karakteristik Ibu Hamil Yang Mengalami Hiperemesis Gravidarum Di Rumah Sakit

iklan1

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar bagi negara-negara berkembang. Di negara miskin, sekitar 20-50% kematian wanita usia subur disebabkan hal yang berkaitan dengan kehamilan. Menurut data statistik yang dikeluarkan WHO sebagai badan PBB yang menangani masalah bidang kesehatan, tercatat angka kematian ibu dalam kehamilan dan persalinan di dunia mencapai 515.000 jiwa setiap tahun  (WHO, 2008).
Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 menyatakan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia mencapai 248 per 100.000 kelahiran hidup, sebagai angka tertinggi di ASEAN. Tingginya angka kematian ibu ini disebabkan oleh berbagai penyebab yang kompleks, yaitu sosial, budaya, ekonomi, tingkat pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan gender, dan penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, infeksi, eklamsi, partus lama dan komplikasi abortus. Hal ini menempatkan upaya penurunan AKI sebagai program prioritas pemerintah.
Kehamilan merupakan suatu peristiwa yang unik dan penuh misteri bagi setiap pasangan suami istri. Setiap kehamilan diharapkan dapat berakhir aman dan sejahtera baik bagi Ibu maupun bagi janinnya, oleh karena itu pelayanan kesehatan maternal yang bermutu sangatlah penting dan semua perempuan diharapkan dapat memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan tersebut.
Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering didapatkan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi setelah 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu (Prawirohardjo, 2005).
Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primi gravida dan 40-60% multi gravida. Satu diantara seribu kehamilan, gejala-gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan mual ini disebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG dalam serum. Pengaruh fisiologik kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengosongan lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian gejala mual dan muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Pekerjaan sehari-hari menjadi terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Keadaan inilah yang disebut hiperemesis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologis menentukan berat ringannya penyakit. Hiperemesis gravidarum yang yang tidak mendapatkan penanganan yang baik dapat pula menyebabkan kematian pada ibu hamil (Prawihardjo, 2005).
Di RSIA Sritina terdapat 145 ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya selama bulan Januari – April 2009 dan 30 diantaranya mengalami hiperemesis gravidarum. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Karakteristik Ibu Hamil yang Mengalami Hiperemesis Gravidarum di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sritina tahun 2009.

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka yang menjadi pokok masalah dalam penelitian ini adalah bagaiman mengetahui Karakteristik Ibu Hamil Yang Mengalami Hiperemesis Gravidarum Di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sritina tahun 2008.

C.    Tujuan Penelitian
a.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui karakteristik ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sritina tahun 2008.
b.    Tujuan Khusus
1)    Untuk mengetahui distribusi frekkuensi ibu hamil dengan hiperemesis garvidarum di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sritina berdasarkan gravida.
2)    Untuk mengetahui distribusi frekkuensi ibu hamil dengan hiperemesis garvidarum di Rumah Sakit Ibu dan Anak  Sritina berdasarkan pendidikan.
3)    Untuk mengetahui distribusi frekkuensi ibu hamil yang mengalmi hiperemesis garvidarum di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sritina berdasarkan usia kehamilan.
4)    Untuk mengetahui distribusi frekkuensi ibu hamil dengan hiperemesis garvidarum di Rumah Sakit Ibu dan Anak  Sritina berdasarkan riwayat kehamilan.
5)    Untuk mengetahui distribusi frekkuensi ibu hamil dengan hiperemesis garvidarum di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sritina berdasarkan penyakit ibu.

D.    Manfaat Penelitian
a.    Bagi penulis
Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dan pengalaman belajar khususnya tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan hiperemesis gravidarum.
b.    Bagi Institusi Pendidikan Kesehatan
Penelitian ini dapat digunakan sebagai sarana kepustakaan dan menambah informasi mahasiswa dalam melaksanakan asuhan kebidanan khususnya pada kehamilan.
c.    Bagi tempat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan dan sumbangan pemikiran bagi pegawai/bidan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Sritina untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada masyarakat khususnya ibu hamil.

E.    Ruang Lingkup Penelitian
Karya tulis ini memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengambil data tentang hiperemesis gravidarum dan akan dilaksanakan di Rumah Sakit Ibu dan Anak  Sritina tahun 2008. Data yang diambil adalah semua data ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum tahun 2008.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.154

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Karakteristik Ibu Hamil Yang Mengalami Hiperemesis Gravidarum Di Rumah Sakit
iklan2

Saturday, December 3, 2011

iklan0
Karakteristik Ibu Dengan Abortus Inkompletus di RSU

iklan1

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tingginya AKI menurut Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997 yaitu 334/100.000 kelahiran hidup. Mengingat masih tinggi AKI maka pada tanggal 12 Oktober 2003 pemerintah telah mencanangkan Gerakan Nasional kehamilan yang aman atau Making Pragnancy Safer (MPS) sebagai strategi pembangunan kesehatan masyarakat menuju Indonesia Sehat 2010 dan menetapkan target dengan menurunkan AKI menjadi 125/100.000 kelahiran hidup di tahun 2010 (Saefudin, 2001).
Penyebab kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan (30%), infeksi (12%), eklampsi (25%), abortus (5%), partus lama (5%), emboli obstetri (3%), komplikasi masa nifas (8%) dan penyebab lainnya (12%). Perdarahan yang menyebabkan kematian ibu yang sekarang banyak ditemui adalah abortus. Menurut SDKI tahun 1997 menunjukkan bahwa wanita berstatus menikah melakukan abortus masih tinggi berkisar 9,2% dengan alasan tidak menginginkan anak lagi atau untuk menjarangkan kehamilan, tetapi tidak menggunakan alat kontrasepsi (Depkes RI, 2001).
Keguguran/abortus merupakan masalah kesehatan yang terjadi pada ibu hamil juga pada janin di dalam kandungan dimana usia kehamilan kurang dari 22 minggu atau berat badan janin 1000 gr dan abortus ini bisa terjadi karena kondisi ibu yang lemah, kehamilan yang tidak diinginkan dan kehamilan di luar nikah. Keguguran atau abortus sering terjadi adalah abortus inkompletus, dimana janin yang dikandungnya sudah keluar sebagian dan sebagian lagi tinggal di dalam rahim. Bila keguguran ini terjadi harus segera ditangani untuk mengatasi perdarahan yang banyak yang dapat menyebabkan kematian pada ibu (Manuaba, 1998).
Pada tahun 2000, WHO memperkirakan 2/3 kehamilan di dunia merupakan kehamilan yang tidak diinginkan yaitu sekitar 50 juta per tahun. Sebanyak 60% mendapat pertolongan yang aman dan 40% mendapat pertolongan tidak aman. Hal ini menyumbangkan AKI 15-20% diperkirakan sekitar 700.000 wanita/ibu meninggal per tahun akibat abortus tak aman, yaitu 1 diantara 10 kehamilan atau 1 diantara 7 kelahiran. 90% terjadi di negara berkembang yang merupakan 15 kali angka kematian dibanding di negara maju (Affandi, 2008).
Di Indonesia diperkirakan sekitar 2-2,5% mengalami keguguran setiap tahun sehingga secara nyata dapat menurunkan angka kelahiran menjadi 1,7 per tahunnya (Manuaba, 2001).
Berdasarkan kutipan Syahrianti tahun 2004 mahasiswi Politeknik Kesehatan Medan Program Studi Kebidanan Pematang Siantar yang dikemukakan oleh Siegler dan Eastman, Insidenabortus secara umum berkisar 10% dari seluruh kehamilan. Demikian juga di Rumah Sakit Pirngadi Medan tahun 2003, prevalensi abortus meningkat sesuai dengan usia ibu 12% pada usia 20 tahun dan 50% pada usia 45 tahun dan 80% dari abortus terjadi pada bulan ke 2-3 kehamilan menurut Eastman dan 76% menurut Simens (Syahrianti, 2004).
Berdasarkan survei awal yang dilakukan peneliti di Rumah Sakit Dr. F.L. Tobing Sibolga, peneliti memperoleh data terjadi peningkatan abortus inkompletus dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 ada sebanyak 30 kasus dari 228 persalinan, tahun 2007 ada sebanyak 38 kasus dari 208 persalinan.
Melihat masih tingginya angka abortus inkompletus, maka penulis termotivasi melakukan penelitian tentang “Karakteristik Ibu Dengan Abortus Inkompletus Di RSU. Dr. F. L. Tobing Sibolga Tahun 2008”.

B.    Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang tersebut, maka penulis merumuskan tentang “Bagaimanakah Karakteristik Ibu Dengan Abortus Inkompletus di RSU. Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2008?”.

C.    Tujuan Penelitian
C.1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui Karakteristik Ibu Dengan Abortus Inkompletus RSU. Dr. F.L. Tobing Sibolga Tahun 2008.
C.2.    Tujuan Khusus
C.2.1.    Untuk mengetahui karakteritik ibu dengan abortus inkompletus berdasarkan usia ibu.
C.2.2.    Untuk mengetahui karakteritik ibu dengan abortus inkompletus berdasarkan pendidikan ibu.
C.2.3.    Untuk mengetahui karakteritik ibu dengan abortus inkompletus berdasarkan pekerjaan ibu.
C.2.4.    Untuk mengetahui karakteritik ibu dengan abortus inkompletus berdasarkan pekerjaan suami.
C.2.5.    Untuk mengetahui karakteritik ibu dengan abortus inkompletus berdasarkan paritas.
C.2.6.    Untuk mengetahui karakteritik ibu dengan abortus inkompletus berdasarkan usia kehamilan.
C.2.7.    Untuk mengetahui karakteritik ibu dengan abortus inkompletus berdasarkan riwayat kehamilan yang lalu.

D.    Manfaat Penelitian
D.1.    Bagi Peneliti
1.    Sebagai sarana pengembangan diri dan penerapan pengetahuan yang diperoleh penulis tentang metodologi penelitian.
2.    Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Diploma III Kebidanan di Akbid Nauli Husada Sibolga.
D.2.    Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan bacaan di perpustakaan Akbid Nauli Husada Sibolga.
D.3.    Bagi Institusi Rumah Sakit
Sebagai bahan evaluasi dan satu dasar memiliki langkah yang tepat dalam upaya melakukan asuhan dan pengobatan yang komprehensif terhadap penderita abortus inkompletus.
D.4.    Bagi Masyarakat
Sebagai bahan tambahan informasi mengenai abortus inkompletus.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.153

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Karakteristik Ibu Dengan Abortus Inkompletus di RSU
iklan2

iklan0
Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Ekstraksi Vakum Di Klinik

iklan1

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Di dalam Rencana Strategi Nasional Making Pregnancy Safer di Indonesia 2001-2010 disebut bahwa dalam Rencana Pembangunan Kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010, Making Pregnancy Safer mempunyai misi dan visi untuk mencapai Indonesia sehat 2010. Visi Making Pregnancy Safer adalah semua perempuan di Indosenia dapat menjalani kehamilan dan persalinan dengan aman dan bayi dilahikan hidup sehat. Sedangkan misinya adalah menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir melalui pemantapan sistem kesehatan untuk menjamin ASKES terhadap intervensi yang cost-effective berdasarkan bukti ilmiah yang berkualitas, memberdayakan wanita, keluarga dan masyarakat dan mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang lestari sebagai suatu prioritas dalam program pembangunan nasional. Dan tujuan Making Pregnancy Safer adalah menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia (Depkes RI, 2001).
    Ekstraksi vakum merupakan tindakan untuk melahirkan bayi.dengan ekstraksi menggunakan tekanan negatif dengan alat vakum.
Tehnik melahirkan bayi menggunakan alat vakum yang telah diperkenalkan sejak tahun 1840 oleh Simpson, dan model alat ini terus berubah demi mengurangi resiko pada bayi yang diperkenalkan Malmstrom tahun 1954.alat ekstraksi vakum dibuat dalam 2 bentuk. Ada yang terbuat dari bahan  stainless dan silastic yang masing-masing punya keunggulan.Prinsip kerja alat ekstraksi vakum adalah dengan memberikan tekanan negatif, sehingga akan membentuk kaput dikulit kepala bayi yang berguna sebagai tempat tarikan saat ibu mengejan (Cuningham F, 2002).
    Adanya beberapa faktor ibu maupun janin menyebabkan tindakan ekstraksi vakum dilakukan yaitu ketidakmampuan mengejan, keletihan, penyakit jantung, section secarea pada persalinan sebelumnya, kala II yang lama, dan posisi janin oksiput posterior atau oksiput transverse menyebabkan persalinan tidak dapat dilakukan secara normal. Maka perlu tindakan ekstraksi vakum. Ekstraksi vakum dapat mengakibatkan terjadinya toleransi pada servik uteri dan vagina ibu sehingga mengakibatkan perdarahan yang dapat meningkatkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Disamping itu terjadi laserasi pada kepala janin yang dapat mengakibatkan pendarahan intrakranial.(Depkes RI,2005)
Menurut data WHO, sebanyak 99% kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran yang terjadi di negara-negara berkembang. Rasio kematian ibu di Negara-negara bekembang merupakan yang tertinggi dengan 450 kematian ibu per 100.000 kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu di sembilan negara maju dan 51 negara persemakmuran.
Dr. Ieke menegaskan bahwa 90% kematian ibu di Indonesia disebabkan oleh pendarahan (30%), infeksi (12%), eklampsia (25%), partus lama (11%), komplikasi abortus (12%) dan penyebab lainnya (Depkes RI, 2001)
    Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)  tahun 2002 menunjukkan bahwa terdapat peningkatan AKI dari 307 menjadi 390 per 100.000 kelahiran hidup (Depkes RI, 2005).
    persalinan yang didapat dari WHO kejadian ekstraksi vakum berkisar antara 38% dan pervaginam berkisar 62% pada presentase belakang-kepala. Sekalipun kejadian kecil tetapi mempunyai penyulit yang besar dengan angka kematian ibu 90% disebabkan oleh perdarahan yaitu (Mochtar 1998) atonia uteri 50% - 60 %, retensio plasenta 16% -17 %, laserasi jalan lahir 4% - 5%, kelainan darah 0,5% - 0,8%, infeksi, partus lama dan komplikasi lain (Depkes RI, 2002).
    Alasan pemilihan alat ekstraksi vakum (alat bantu persalinan pervaginam) adalah untuk menghindari tingginya angka operasi caesar yang sudah membutuhkan biaya relatif lebih besar dan resiko dari tindakan operasi terhadap ibu bila dibandingkan dengan tindakan ekstraksi vakum, selain itu komplikasi yang terjadi pada partus buatan dengan ekstraksi vakum biasanya timbul akibat terlalu lama dan terlalu kuatnya tarikan kadang juga operator sering  menemukan kendala dari pihak keluarga akibat sikap keluarga yang tidak siap operasi dan meminta dokter untuk mencoba tetap lahir pervaginam.
    Berdasarkan penelitian  pada periode 01 Januari – 31 Mei 2009 di Klinik Yoshua Lubuk Pakam ditemukan kasus ekstraksi vakum sebanyak 67 (19,6%) dari 341 jumlah ibu bersalin.
Sebagian kasus ekstraksi vakum yang ditolong di Klinik Yoshua adalah partus lama (55%), dan sebagian terbesar adalah kiriman bidan dengan angka tertinggi primigravida (66,5%).
    Berdasarkan data dan penjelasan diatas maka penullis tertarik mengetahui “Karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum di Klinik Yoshua Lubuk Pakam periode 01 Januari – 31 Mei 2009.

B.    Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang tersebut maka penulis merumuskan masalah bagaimana  Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Ekstraksi Vakum Di Klinik Yoshua Lubuk Pakam Periode 01 Januari – 31 Mei Tahun 2009.

C.    Tujuan Penelitian
C.1.  Tujuan umum
Untuk mengetahui karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum di Klinik Yoshua Lubuk Pakam Periode 01 Januari – 31 Mei Tahun 2009.
C.2.  Tujuan khusus
1.    Untuk mengetahui karakteristik ibu pada kasus ekstraksi vakum berdasarkan umur ibu.
2.    Untuk mengetahui karakteristik ibu pada kasus ekstraksi vakum berdasarkan pendidikan ibu.
3.    Untuk mengetahui karakteristik ibu pada kasus ekstraksi vakum berdasarkan pekerjaan ibu.
4.    Untuk mengetahui karakteristik ibu pada kasus ekstraksi vakum berdasarkan pritas
5.    Untuk mengetahui karakteristik ibu pada kasus ekstraksi vakum berdasarkan cara persalinan yang lalu.

D.    Manfaat Penelitian

D.1.    Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan dan pengalaman penulis dalam penerapan ilmu yang didapat di masa pendidikan di Akademi Kebidanan Nauli Husada Sibolga.
D.2.    Bagi Pendidikan
Sebagai bahan informasi yang dijadikan referensi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian lebih lanjut bagi yang membutuhkannya.
D.3.    Bagi Instansi
Meningkatkan mutu pelayanan yang telah dicanangkan oleh pemerintah supaya pertumbuhan dan perkembangan pada anak semakin optimal dan dapat tercapai seoptimal mungkin.




Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.152

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Ekstraksi Vakum Di Klinik
iklan2

iklan0
Hubungan Peran Bidan Dan Karakteristik Ibu Menyusui Dengan Pemberian ASI Eksklusif Di Puskesmas

iklan1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia baik masyarakat, swasta, maupun pemerintah. (Depkes RI, 2007)
Anak merupakan tumpuan harapan bagi kelangsungan hidup umat manusia dan menjadi generasi penerus bangsa. Semua itu akan terpenuhi bila anak mencapai tumbuh kembang yang optimal. Tumbuh kembang dapat optimal apabila segala kebutuhannya terpenuhi, sehingga kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dapat ditingkatkan. Salah satu upaya yang memberi dampak cukup penting terhadap peningkatan kualitas SDM adalah upaya peningkatan status gizi masyarakat. Salah satu program tersebut dilakukan dengan upaya pemberian ASI Eksklusif yang berguna untuk meningkatkan status gizi bayi. Air Susu Ibu (ASI) telah terbukti mempunyai keunggulan yang tak bisa digantikan susu manapun, karena ASI mengandung zat gizi yang selalu menyesuaikan dengan kebutuhan bayi setiap saat, bahkan ketika sakitpun kandungan gizi ASI akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi. ASI juga berfungsi sebagai imunitas (kekebalan) terhadap penyakit, sehingga anak akan sulit terserang penyakit (Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan RI, 2007).
Sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa ASI merupakan mukjizat dari Tuhan yang diberikan kepada umatnya melalui ibu yang menyusui bayinya dengan ASI. ASI adalah satu jenis makanan yang mencukupi seluruh unsur kebutuhan bayi, baik fisik, psikologi, sosial maupun spiritual, dan pemberian ASI selama 1 jam pertama dalam kehidupannya dapat menyelamatkan 1 juta nyawa bayi. Berkaitan dengan pentingnya ASI 1 jam pertama maka dianjurkan sesegera mungkin meletakkan bayi yang baru dilahirkan pada dada ibunya dan membiarkannya selama 30 – 60 menit. ASI merupakan hak anak, untuk kelangsungan hidup dan tumbuh kembang secara optimal dan hak ibu untuk menyusui anaknya. Pemberian ASI juga dapat membentuk perkembangan intelegensia, rohani dan perkembangan emosional, karena dalam dekapan ibu selama disusui, bayi bersentuhan langsung dengan ibu serta mendapat kehangatan, kasih sayang dan rasa aman. (Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan RI, 2007)
Berdasarkan hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 pemberian ASI Eksklusif menunjukkan adanya penurunan jumlah bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif dari 39,5% pada tahun 2002/2003 menjadi 32% pada tahun 2007 sehingga terjadi penurunan sebesar 7,5%. Cakupan ASI Eksklusif di Indonesia sebesar 32%, masih jauh dari rata-rata dunia (42,2%), yaitu jumlah ini menurun dari cakupan tahun 2002/2003 sebesar 39,5%. (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2008)
Dari data Dinas kesehatan Provinsi Jawa Barat pada tahun 2007 cakupan pemberian ASI Eksklusif sebanyak 502.172 (53,75%) dari jumlah 934.297 bayi. (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, 2008)
Cakupan pemberian ASI Eksklusif di Kabupaten ............. pada tahun 2008 berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten ............. yang diberikan ASI Eksklusif sebanyak 6.419 bayi (33,8%) dari jumlah 19.019 bayi, sedangkan di UPTD Puskesmas Kertajati pada tahun 2008 sebanyak 14 bayi (3,3%) diberikan ASI Eksklusif dari 414 bayi. Angka tersebut menunjukkan bahwa cakupan pemberian ASI Eksklusif di objek penelitian lebih rendah jika dibandingkan dengan cakupan pencapaian ASI Eksklusif di Puskesmas sekitarnya yaitu 50,7 % di Puskesmas Jatitujuh dan 46,9% di Puskesmas Panongan. (Dinas Kesehatan Kabupaten ............., 2009)
Rendahnya pencapaian tersebut salah satunya dipengaruhi perilaku ibu menyusui dalam memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya. Menurut teori Green (Notoatmodjo, 2003) bahwa perilaku ibu dalam pemberian ASI Eksklusif dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain yang terwujud dalam pengetahuan, keyakinan dan nilai yang dianut ibu tentang pemberian ASI pada bayi.
Hasil penelitian Hapsari (2009) tentang Promosi Kesehatan Bidan Pada Bayi di Banjarmasin bahwa bidan mempunyai peranan yang sangat istimewa dalam menunjang pemberian ASI. Peran bidan dapat membantu ibu untuk memberikan ASI dengan baik dan mencegah masalah-masalah umum terjadi.
Berdasarkan hal itu maka peneliti tertarik untuk mengangkat masalah tersebut dalam penelitian yaitu “Apakah ada hubungan peran bidan dan karakteristik ibu menyusui dengan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kertajati Kabupaten ............. Tahun 2010”

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan permasalahan dalam penelitian yaitu masih rendahnya cakupan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kertajati sebesar 3.3% bayi yang diberikan ASI Eksklusif. Dan yang menjadi pertanyaan penelitiannya adalah “Bagaimana hubungan peran bidan dan karakteristik ibu menyusui dengan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kertajati Kabupaten .............?”.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Diketahuinya hubungan peran bidan dan karakteristik ibu menyusui dengan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kertajati Kabupaten ............. Tahun 2010
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Diketahuinya gambaran pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kertajati Kabupaten ............. Tahun 2010
1.3.2.2 Diketahuinya gambaran peran bidan (layanan konseling dan penyuluhan) di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kertajati Kabupaten ............. Tahun 2010
1.3.2.3 Diketahuinya gambaran karakteristik ibu (umur, pendidikan dan pekerjaan) di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kertajati Kabupaten ............. Tahun 2010
1.3.2.4 Diketahuinya hubungan layanan konseling dengan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kertajati Kabupaten ............. Tahun 2010
1.3.2.5 Diketahuinya hubungan penyuluhan dengan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kertajati Kabupaten ............. Tahun 2010
1.3.2.6 Diketahuinya hubungan umur ibu menyusui dengan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kertajati Kabupaten ............. Tahun 2010
1.3.2.7 Diketahuinya hubungan pendidikan ibu menyusui dengan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kertajati Kabupaten ............. Tahun 2010
1.3.2.8 Diketahuinya hubungan pekerjaan ibu menyusui dengan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kertajati Kabupaten ............. Tahun 2010

1.4 Ruang Lingkup
Ruang lingkup permasalahan pada penelitian ini dibatasi pada masalah peran bidan meliputi layanan konseling dan kegiatan penyuluhan, dan karakteristik ibu menyusui yang diteliti meliputi faktor umur, pendidikan dan pekerjaan, untuk kemudian dicari hubungannya dengan pemberian ASI Eksklusif di objek penelitian yang diukur berdasarkan partisipasi pendapat ibu bayi. Sasaran pada penelitian ini yaitu ibu menyusui bayi usia 6 – 12 bulan.

1.5 Manfaat
1.5.1 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai dokumentasi dan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya dalam penelitian sejenis sehingga diperoleh penelitian yang lebih baik.
1.5.2 Bagi Lahan Praktek
Diharapkan hasil peneitian ini dapat dijadikan sebagai informasi untuk tenaga kesehatan yang berperan sebagai pemberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat terutama kepada ibu menyusui sehingga dapat meningkatkan pelayanan dan penyuluhannya tentang pemberian ASI Eksklusif menjadi lebih optimal.
1.5.3 Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan informasi bagi masyarakat khususnya ibu menyusui tentang manfaat pemberian ASI Eksklusif kepada bayi



Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.151

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Hubungan Peran Bidan Dan Karakteristik Ibu Menyusui Dengan Pemberian ASI Eksklusif Di Puskesmas
iklan2
kti